Xiaomi Batalkan HP Tipis Pesaing iPhone , RAM Mahal Jadi Sebab

Xiaomi Resmi Batalkan Proyek HP Ultra Tipis

Xiaomi membatalkan proyek smartphone ultra tipis yang di rancang untuk menantang iPhone Air. Keputusan ini muncul setelah penjualan iPhone Air jauh di bawah ekspektasi dan harga komponen memori RAM melonjak drastis.

Proyek yang di kenal sebagai Xiaomi 17 Air ini sebelumnya sangat ambisius. Tim pengembang Xiaomi merancang perangkat dengan ketebalan hanya 5,5 mm, bahkan lebih tipis dari iPhone Air yang memiliki ketebalan 5,64 mm.

Selain itu, bocoran cetakan prototipe Xiaomi 17 Air sempat beredar di media sosial dan menunjukkan desain yang sangat agresif. Tipster ternama Bald Panda membagikan video yang memperlihatkan cetakan ponsel ultra tipis tersebut.

Oleh karena itu, pembatalan proyek ini mengejutkan banyak pengamat industri smartphone.

Harga Memori RAM Melonjak Drastis

Harga memori RAM menjadi faktor utama di balik pembatalan proyek HP tipis dari berbagai vendor. Sejak Oktober 2025, harga RAM global sudah naik lebih dari dua kali lipat.

Beberapa kasus bahkan mencatat kenaikan hingga lima kali lipat hanya dalam hitungan beberapa bulan. Kondisi ini membuat biaya produksi smartphone melonjak signifikan.

Selain itu, data industri menunjukkan Samsung telah menaikkan harga modul RAM hingga 60% sejak pertengahan 2025. Harga chip memori DRAM dan NAND flash naik hingga 30% dalam dua kuartal terakhir tahun 2025.

Dengan demikian, produsen smartphone menghadapi di lema besar antara menaikkan harga atau memangkas spesifikasi.

Krisis RAM Global Dipicu Industri AI

Krisis RAM global terjadi akibat meningkatnya permintaan memori untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Penyedia pusat data seperti Amazon, Google, dan Oracle memborong DDR5 untuk menopang komputasi cloud berperforma tinggi.

Server AI modern membutuhkan RAM hingga beberapa terabyte, jauh berbeda dengan server generasi lama yang hanya mengandalkan 128GB atau 256GB DDR4. Permintaan besar ini menyedot pasokan memori global.

Selain itu, produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron mengalihkan kapasitas produksi ke segmen data center AI. Margin keuntungan dari sektor AI jauh lebih tinggi di bandingkan pasar konsumen.

Oleh karena itu, pasokan chip memori untuk perangkat konsumen seperti smartphone menjadi sangat terbatas.

Vivo dan Oppo Ikut Tunda Proyek HP Tipis

Vivo dan Oppo juga mengambil langkah serupa dengan Xiaomi. Kedua vendor asal China ini menunda atau membatalkan proyek ponsel ultra tipis mereka.

Vivo sebelumnya berencana membawa desain super tipis ke seri S, model mid-range mereka. Namun rencana tersebut kini di tunda tanpa batas waktu.

Selain itu, Oppo mengalihkan alokasi produksi ponsel tipis ke model lain. Komponen eSIM yang tadinya sudah di siapkan untuk ponsel tipis di alihkan ke lini produksi berbeda.

Dengan demikian, tren HP ultra tipis yang sempat di gadang-gadang sebagai inovasi baru kini menghadapi hambatan serius.

Penjualan iPhone Air Jauh di Bawah Target

Penjualan iPhone Air yang mengecewakan menjadi pukulan telak bagi tren ponsel ultra tipis. Apple meluncurkan iPhone Air sebagai smartphone flagship paling tipis dengan ketebalan 5,6 milimeter.

Namun sambutan pasar ternyata sangat dingin. Sejak peluncurannya, iPhone Air tetap tersedia untuk pengiriman cepat bahkan ketika iPhone 17 Pro masih harus menunggu.

Selain itu, Apple di kabarkan memangkas pesanan produksi hingga level hampir akhir produksi. Laporan dari Mizuho Securities menyebutkan Apple akan mengurangi produksi iPhone Air sekitar satu juta unit pada 2025.

Oleh karena itu, Apple kemungkinan tidak akan merilis penerusnya yakni iPhone Air generasi kedua.

Samsung Galaxy S25 Edge Juga Gagal

Samsung mengalami nasib serupa dengan Galaxy S25 Edge. Ponsel tertipis Samsung ini juga mengalami penjualan yang meleset dari target.

Samsung di kabarkan membatalkan produksi model serupa untuk tahun depan. Galaxy S26 Edge kemungkinan besar tidak akan hadir di pasaran.

Selain itu, harga Galaxy S25 Edge turun drastis di Indonesia. Saat pertama meluncur pada Mei 2025, HP tertipis Samsung itu di jual mulai Rp 19 jutaan. Kini harga jualnya mulai Rp 12 jutaan.

Dengan demikian, fenomena penolakan terhadap desain ultra tipis menjadi tren pasar yang lebih luas.

Spesifikasi Xiaomi 17 Air yang Batal Hadir

Xiaomi 17 Air di rancang dengan ketebalan bodi hanya 5,5 mm. Angka ini sangat agresif dan lebih tipis di bandingkan rumor iPhone Air.

Di bagian depan, perangkat ini di perkirakan mengusung layar seluas 6,59 inci. Kombinasi layar besar dengan bodi super tipis akan memberikan pengalaman genggam yang unik.

Selain itu, bocoran menyebutkan penggunaan bodi logam yang di pahat dengan teknik cold-sculpted. Teknik ini di tujukan untuk memberikan kesan premium dan kokoh saat di genggam sekaligus membantu manajemen panas.

Namun material premium saja tidak cukup untuk menyelamatkan proyek ini dari kenyataan pahit keterbatasan teknologi.

Masalah Baterai Jadi Hambatan Utama

Kapasitas baterai menjadi masalah klasik pada perangkat ultra tipis. Dengan ruang yang sangat sempit, mustahil membenamkan baterai dengan kapasitas memadai untuk aktivitas pengguna modern seharian penuh.

Xiaomi 17 Air dirancang dengan ketebalan 5,5 mm yang sangat terbatas. Ruang untuk baterai praktis sangat kecil dan tidak mampu menampung kapasitas besar.

Selain itu, konsumen saat ini cenderung memprioritaskan daya tahan baterai dan performa kamera yang stabil. Sekadar bodi tipis tidak lagi menjadi nilai jual utama.

Oleh karena itu, Xiaomi memutuskan membatalkan proyek yang mengejar estetika ekstrem dengan mengorbankan fungsionalitas dasar.

Harga iPhone Air Tidak Sebanding dengan Spesifikasi

Harga iPhone Air di Indonesia sangat tinggi namun spesifikasi yang ditawarkan kurang menarik. Varian 256 GB dibanderol Rp 21.249.000, varian 512 GB dijual Rp 25.999.000, dan tipe 1 TB ditebus dengan harga Rp 30.249.000.

Dengan harga setinggi itu, iPhone Air hanya menawarkan satu kamera belakang dan baterai yang lebih kecil. Konsumen bisa mendapatkan iPhone 17 Pro 256 GB dengan menambah dana sekitar Rp 2,5 juta.

Selain itu, harga iPhone Air 512 GB hanya berbeda Rp 250 ribu dari iPhone 17 Pro Max 256 GB. Model Pro menawarkan spesifikasi jauh lebih canggih termasuk tiga kamera dan baterai lebih besar.

Dengan demikian, konsumen lebih memilih model Pro Series ketimbang mengorbankan fitur penting demi ketipisan perangkat.

Dampak Krisis RAM pada Harga Smartphone 2026

Krisis RAM global akan berdampak besar pada harga smartphone sepanjang 2026. International Data Corporation memperingatkan harga ponsel bisa naik hingga 70 dolar AS atau sekitar Rp 1,1 juta.

Biaya produksi ponsel diprediksi naik 10 sampai 25 persen hingga akhir 2025. Kenaikan ini berpotensi melonjak lagi 10 sampai 15 persen pada pertengahan 2026.

Selain itu, Counterpoint Research memangkas proyeksi pengiriman smartphone 2026 sebesar 2,6 persen. Harga jual rata-rata smartphone global diperkirakan naik 7 persen tahun depan.

Oleh karena itu, konsumen yang berencana membeli ponsel baru harus menyiapkan anggaran lebih besar.

Xiaomi Sudah Naikkan Harga Ponsel Flagship

Xiaomi sudah menunjukkan dampak krisis RAM dengan menaikkan harga ponsel flagship terbaru.

Harga ini naik hampir 10 persen atau 500 yuan dibandingkan pendahulunya Xiaomi 15 Ultra. Presiden Xiaomi Lu Weibing berulang kali memperingatkan tentang tekanan biaya produksi yang semakin berat.

Selain itu, Lu Weibing menegaskan penyesuaian harga adalah langkah tak terhindarkan untuk menjaga kelangsungan produksi. Komponen DRAM menyumbang sekitar 20 persen dari total biaya material smartphone.

Dengan demikian, kenaikan harga DRAM memiliki dampak langsung pada harga jual akhir.

Produsen Memori Fokus ke AI dan Data Center

Samsung, SK Hynix, dan Micron memprioritaskan alokasi pasokan untuk sektor AI dan server. Margin keuntungan dari High Bandwidth Memory (HBM) untuk AI jauh lebih tinggi dibandingkan memori konsumen.

Dalam prioritas industri, RAM server dan HBM untuk AI berada di posisi teratas. Memori mobile berada di urutan belakang dalam rantai pasokan.

Selain itu, produsen DRAM cenderung menahan ekspansi kapasitas demi menjaga margin setelah peristiwa kelebihan pasokan pada 2018 dan 2022. Fasilitas M15X milik SK Hynix baru mulai beroperasi pada 2026.

Oleh karena itu, harga RAM berpotensi tetap tinggi hingga mendekati tahun 2028.

Apple Juga Terdampak Krisis Memori

Apple tengah menghadapi kenaikan harga DRAM yang cukup drastis. iPhone 17 diprediksi menjadi produk pertama yang merasakan dampak langsung dari lonjakan biaya komponen.

Data menunjukkan biaya modul RAM LPDDR5X berkapasitas 12GB meroket dari kisaran 25-29 dolar AS menjadi 70 dolar AS per unit. Kenaikan sebesar 230 persen ini sangat signifikan.

Selain itu, kontrak pasokan DRAM Apple dengan SK Hynix dan Samsung akan berakhir pada Januari 2026. Apple harus melakukan negosiasi ulang di tengah kondisi pasar yang tidak menguntungkan.

Dengan demikian, mustahil bagi Apple mendapatkan kembali harga lama di angka 25 dolar AS per unit.

Desainer iPhone Air Tinggalkan Apple

Sinyal negatif semakin diperkuat dengan kepergian desainer kunci yang merancang iPhone Air. Desainer tersebut memilih pindah ke startup AI.

Pemasok utama Apple, Foxconn, dilaporkan mengurangi jalur produksi iPhone karena permintaan melemah. Pemasok lain seperti Luxshare dikabarkan menghentikan produksi iPhone sepenuhnya.

Selain itu, penerus dari model ini yang disebut iPhone Air 2 dilaporkan ditunda oleh Apple. Kegagalan iPhone Air di pasar telah meredam semangat inovasi ponsel tipis.

Oleh karena itu, tren smartphone ultra tipis tampaknya berakhir sebelum sempat berkembang.

Huawei Tetap Luncurkan Ponsel Tipis

Di tengah tren pembatalan, Huawei tetap meluncurkan ponsel super tipis bernama Mate 70 Air. Huawei menantang dominasi Apple di segmen flagship tipis.

Huawei Mate 70 Air hadir dengan ketebalan 6,6 mm, sedikit lebih tebal dari iPhone Air. Namun harganya jauh lebih terjangkau yakni sekitar Rp 9,8 jutaan di China.

Selain itu, Huawei berkomitmen tidak mengorbankan spesifikasi vital demi ketipisan. Baterai dan kamera tetap menjadi prioritas utama.

Dengan demikian, Huawei mengambil pendekatan berbeda dalam segmen ponsel tipis.

Prediksi Masa Depan Pasar HP Ultra Tipis

Konsumen saat ini lebih memprioritaskan daya tahan baterai dan performa kamera dibandingkan sekadar bodi tipis. Pergeseran preferensi ini membuat tren HP ultra tipis kehilangan momentum.

Faktor pamungkas adalah lemahnya permintaan pasar. Xiaomi dan vendor lain menyadari mengejar estetika ekstrem dengan mengorbankan fungsionalitas dasar adalah strategi berisiko tinggi.

Selain itu, krisis RAM global semakin mempersulit produsen untuk menekan biaya produksi. Ponsel tipis membutuhkan komponen khusus yang lebih mahal.

Oleh karena itu, bagi konsumen yang menantikan ponsel super tipis, mungkin harus bersabar sedikit lebih lama hingga kondisi pasar membaik.

Saran untuk Konsumen

Konsumen yang berencana membeli ponsel baru sebaiknya tidak menunggu hingga 2026. Harga smartphone diprediksi akan terus naik seiring krisis RAM global.

Desember 2025 disebut sebagai waktu paling tepat untuk membeli HP baru. Beberapa produsen masih berusaha menahan harga untuk menghabiskan stok lama.

Selain itu, menunda pembelian hingga tahun depan sangat berisiko karena harga perangkat incaran bisa melonjak tinggi. Pilihlah ponsel dengan spesifikasi seimbang antara baterai, kamera, dan performa!